Berita Terkini

Dari Desa Untuk Demokrasi, Dari Desa Untuk Indonesia

Dari Desa Untuk Demokrasi, Dari Desa Untuk Indonesia

Program Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan (DP3) yang tengah dilaksanakan oleh KPU RI sampai pada tahap pembekalan atau pemberian materi kepada kader DP3. Pembekalan dilakukan dalam bentuk workshop, berlangsung Kamis-Sabtu, 18-20 November 2021.

KPU Kota Semarang mengikuti workshop melalui zoom meeting. Hadir Ketua dan Anggota KPU Kota Semarang Divisi Sosparmas, Kasubag dan Staf KPU Kota Semarang.
Zoom meeting diikuti oleh Ketua dan anggota KPU RI, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten Kota, Khususnya yang membidangi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih. 
Sambutan sekaligus membuka acara oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, Ilham Saputra. Pesan yang disampaikan terkait workshop program DP3 adalah bahwa program ini sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu. KPU sudah melakukan rekrutmen kader DP3, selanjutnya kader yang terpilih harus diberi pembekalan yang cukup, agar tau dan paham bagaimana pemilu berjalan dan tahapan pemilu dilaksanakan,  kedepannya kader DP3 diharapkan secara aktif menjadi penyelenggara pada pemilu 2024 mendatang.
Ilham berpesan agar workshop berjalan dengan baik, maka metode pelatihan, model belajar, sesuai dengan metode yang sudah ditentukan dalam silabus belajar di KPU. 
“Saya berharap  pelatihan kali ini, belajar dengan metode aktif, tidak mengantuk, tidak membosankan dan bagaimana peserta belajar sambal bermain sesuai aturan dan ketentuan.

Senada dengan Ilham Saputra, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi (Anggota KPU RI) berharap kepada peserta agar mengikuti acara dengan baik. mengingat kedepan akan menjadi pemateri dan fasilitator dalam program DP3. 
“Para peserta tentu harus memiliki kualifikasi, kompetensi dan kepemimpinan,  dalam memberikan supervisi kepada para kader DP3 di daerah. Harus mampu memberi contoh berkomunikasi, karena yang dihadapi adalah tokoh masyarakat, stake holder dan warga masyarakat” tegas Dewa.
Dewa menilai program DP3 ini dilapangan berjalan cukup baik, ada semangat yang luar biasa dari desa dan kampung atau kelurahan. 
“Program DP3 tentu tidak hanya dirintis dan diluncurkan tapi dirawat dijaga dan secara berkesinambungan dijaga dengan program yang berkontribusi positif. Harapannya, hal ini bermanfaat bagi kualitas demokrasi bagi pemilih dan bagi partisipasi yang lebih baik kedepan” katanya.
Pengarahan selanjutnya disampaikan oleh Evi Novida Ginting Manik. Mengupas secara mendalam bagaimana persiapan pelaksanaan pemilihan umum tahun 2024. Serta tantangan kader DP3 ketika pada saatnya bertugas menjadi tutor melaksanakan program DP3 ke lokus yang sudah ditentukan.
“Banyak hal yang mesti dikuasai oleh kader DP3 antara lain penguasaan terhadap materi kepemiluan, semua  hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pemilu dan pemilihan tahun 2024. Selain itu juga menguasai berbagai pengetahuan penguasaan kondisi geografi, antropologi dan sosiologi pedesaan", jelas Evi Novida Ginting.
Viryan Azis  memberikan  pembekalan dan pengarahan kepada peserta workshop antara lain bagaimana peserta dituntut mempelajari bagaimana proses demokrasi utamanya pelaksanaan pemilu 2024, juga belajar tentang demokrasi asli Indonesia mengingat kondisi masyarakat di desa, pengetahuan dan cara pandang terhadap demokrasi beragam. 
“Bicara demokrasi di pedesaan, saya harap peserta belajar bagaimana dinamika pilkades sebagai pengetahuan demokrasi yang paling dekat dengan masyarakat pedesaan. Demokrasi ya, pilkades itu,  dengan segala dinamikanya. Biaya menjadi kepala desa  konon jauh lebih mahal biaya dibanding biaya menjadi anggota legislatif, kita pelajari itu” jelas Viryan.
Lebih lanjut Viryan berharap bagaimana para tutor nanti memberikan materi kepada kader DP3 agar bisa membangun secara simultan kemampuan tentang proses demokrasi, yang dikemas secara menarik. Masyarakat di desa memiliki pemahaman prosedur dan substansi demokrasi electoral secara sederhana. Kebutuhan apa saja dibawah semisal masyarakat atau DPT, updating data pemilih, data badan adhoc di desa, database penyelengara pemilu di setiap kelurahan, ada story praktek demokrasi pemilu setiap desa, di samping hal-hal substansial yang juga harus ada.
Pemateri Pertama yang menyampaikan materi adalah Aditya Perdana ( Universitas Indonesia) menyampaikan materi Penguasaan dan Teknik Komunikasi Publik. Selanjutnya diskusi tentang, pendidikan pemilih dalam pencegahan politik uang, teknik dan metode identifikasi berita hoaks, dan modus operandi dan solusi kampanye SARA, teknik menulis berita dan fotografi.  (Didin)

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 99 kali