KPU Kenalkan Literasi Demokrasi kepada Pelajar SMP Yoannes XXIII Semarang
Semarang, kota-semarang.kpu.go.id – Kesadaran berdemokrasi tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang telah memiliki hak pilih. Pemahaman mengenai demokrasi, Pemilu, serta kemampuan menyaring informasi perlu dibangun sejak bangku sekolah. Hal tersebut menjadi salah satu fokus Pendidikan Pemilih yang digelar di SMP Yoannes XXIII Semarang, Kamis (8/10). Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut menghadirkan Anggota KPU Kota Semarang Novi Maria Ulfah sebagai narasumber dengan materi Democracy and General Elections for Youths/Students. Dalam pemaparannya, Novi mengajak para pelajar memahami demokrasi dan Pemilu secara lebih dekat, termasuk posisi mereka sebagai calon pemilih pemula. Menurut Novi, pelajar memiliki karakteristik yang dekat dengan teknologi dan memiliki kemampuan untuk bersikap kritis terhadap berbagai informasi. Karena itu, perkembangan tersebut perlu diikuti dengan kecakapan dalam menggunakan teknilogi informasi secara bertanggung jawab. Ia juga menjelaskan bahwa menjadi pemilih yang cerdas tidak berhenti pada mengetahui kandidat yang akan dipilih. Pemilih juga perlu memastikan statusnya dalam daftar pemilih, mencari tahu rekam jejak calon, memahami visi dan misi, serta menyaring informasi yang diterima agar tidak mudah terpengaruh hoaks maupun informasi yang menyesatkan. Dalam kegiatan tersebut, Novi juga mengenalkan dasar-dasar kepemiluan kepada para pelajar dengan bahasa yang mudah dipahami. Para murid diperkenalkan dengan KPU sebagai lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri sebagaimana diatur dalam Pasal 22E UUD 1945. Selain itu, siswa diajak memahami fungsi Pemilu sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat, mekanisme peralihan kekuasaan secara damai, serta salah satu instrumen yang menentukan arah kebijakan publik di masa depan. Asas Pemilu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (LUBER JURDIL) juga menjadi bagian dari materi yang disampaikan. Pembahasan kemudian diarahkan pada posisi pelajar sebagai calon pemilih pemula. Karakter kritis, idealis, dan melek teknologi yang dimiliki generasi muda dinilai menjadi modal penting untuk membangun budaya demokrasi yang sehat. Antusiasme siswa terlihat dalam sesi tanya jawab interaktif. Sejumlah pertanyaan yang disampaikan antara lain mengenai cara menjadi komisioner KPU serta berbagai kendala yang dihadapi dalam pengelolaan logistik Pemilu. Interaksi tersebut menjadi bagian dari edukasi kepemiluan yang tidak hanya menempatkan siswa sebagai penerima informasi, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan rasa ingin tahu mengenai proses demokrasi dan penyelenggaraan Pemilu. Pendidikan Pemilih di SMP Yoannes XXIII Semarang diarahkan untuk menanamkan kesadaran demokrasi sejak dini. Pembekalan tersebut diharapkan membantu para pelajar memahami bahwa hak pilih nantinya tidak sekadar digunakan untuk menentukan pilihan di bilik suara, tetapi berkaitan dengan arah kebijakan publik dan masa depan bangsa. Dengan pemahaman yang dibangun sejak sekolah, para pelajar diharapkan lebih siap ketika memasuki usia sebagai pemilih pada Pemilu 2029. Mereka juga diharapkan mampu bersikap kritis terhadap informasi politik serta tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, politik uang, maupun informasi yang menyesatkan. (sev/ed. Foto: sev/KPU Kota Semarang)