Semarang, kota-semarang.kpu.go.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang hadiri kegiatan pendidikan politik bagi perempuan di Aula Kecamatan Gajahmungkur, Kamis (16/4), sebagai bagian dari upaya peningkatan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Kota Semarang. Kegiatan yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang itu dihadiri oleh Anggota KPU Kota Semarang Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM, Novi Maria Ulfah, serta Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Salatiga, Satuf Rohul Hidayah, sebagai narasumber. Berdasarkan data Kesbangpol Kota Semarang, indeks demokrasi di Kota Semarang tergolong tinggi. Kendati demikian, tingkat partisipasi perempuan dalam proses demokrasi dan politik dinilai belum optimal, sehingga diperlukan sosialisasi yang dilakukan secara berkala. "Indeks demokrasi di Kota Semarang sebenarnya sudah tinggi, lebih dari 91 persen. Artinya, partisipasi masyarakat dalam konteks demokrasi sudah baik. Namun, partisipasi itu tidak hanya diukur dari kehadiran di TPS saat pemilu atau pilkada, tetapi juga keikutsertaan dalam forum-forum seperti ini," ujar Novi. Ia menegaskan bahwa partisipasi tidak hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas. Menurutnya, pemahaman terhadap tujuan pemilu, asas-asas seperti langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (luber jurdil), transparansi, serta penolakan terhadap politik uang menjadi aspek penting dalam membangun demokrasi yang sehat. "Ke depan, kami berharap perempuan tidak hanya hadir, tetapi juga memahami makna partisipasi. Bahkan, bisa terlibat lebih jauh sebagai penyelenggara, seperti KPPS, PPS, PPK, atau pengawas di tingkat kelurahan," tambahnya. Dalam kesempatan tersebut, KPU Kota Semarang juga memaparkan hasil inventarisasi tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada sebelumnya. Sejumlah wilayah dengan tingkat partisipasi rendah akan menjadi fokus sosialisasi lanjutan. "Kami akan ke kelurahan dengan partisipasi di bawah rata-rata, untuk melakukan sosialisasi dan mencari tahu penyebabnya. Harapannya, masyarakat semakin terinformasi dan terdorong untuk terlibat aktif dalam proses demokrasi," jelas Novi. Selain itu, peserta juga diimbau untuk menjadi pemilih rasional dengan cara memastikan terdaftar sebagai pemilih, tidak golput, menelusuri rekam jejak pasangan calon, menolak politik uang, serta meningkatkan literasi digital guna menghindari hoaks, kampanye hitam, dan isu SARA. KPU juga menekankan pentingnya etika dalam bermedia sosial. Masyarakat diingatkan untuk menyampaikan aspirasi secara bijak, memverifikasi informasi sebelum mempercayainya, serta menjaga ruang digital tetap sehat, mengingat pengguna media sosial berasal dari berbagai generasi. Menjawab pertanyaan peserta, KPU Kota Semarang memastikan tidak ada praktik manipulasi surat suara tidak terpakai di wilayahnya. Penegasan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen menjaga integritas penyelenggaraan pemilu. "Alhamdulillah tidak ada di Kota Semarang. Kami selalu menekankan integritas penyelenggara. Jangan sampai kerja keras dalam menyelenggarakan pemilu justru ternodai oleh pelanggaran yang berujung pada konsekuensi hukum," tegas Novi. Melalui kegiatan ini, KPU Kota Semarang berharap keterlibatan perempuan dalam demokrasi tidak hanya meningkat secara jumlah, tetapi juga semakin berkualitas dan berdampak pada penguatan kehidupan demokrasi, khususnya di Kota Semarang. (rap/ed. Foto: rap/KPU Kota Semarang)