Gelar Sosialisasi, KPU Kota Semarang Ajak Pemilih Disabilitas Sukseskan Pilkada 2024
Semarang, kota-semarang.kpu.go.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang dalam kegiatan Sosialisasi Pilkada 2024 mengajak pemilih disabilitas Kota Semarang untuk terlibat dan menyukseskan Pilgub Jateng dan Pilwakot Semarang Tahun 2024, Kamis (20/6).
Kegiatan yang berlangsung di Noormans Hotel Semarang tersebut dihadiri oleh Ketua KPU, Henry Casandra Gultom, Anggota KPU, Agus Supriyono, Novi Maria Ulfah, Ahmad Zaini dan Sekretaris KPU Kota Semarang, Tobirin.
Dalam acara sosialisasi yang dihadiri oleh komunitas disabilitas Kota Semarang naungan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), dan Badan Kesbangpol Kota Semarang tersebut menghadirkan narasumber dari Ketua Komunitas Sahabat Mata, Basuki, dan Dosen Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Unnes, Dr. Sos. Puji Lestari, S.Pd., M.Si.
Pada pembukaan yang disampaikan oleh Ketua KPU Kota Semarang, Henry Casandra Gultom (Nanda) menyampaikan apresiasi kepada peserta berkenan menghadiri kegiatan KPU Kota Semarang.
Pada Pilkada 2024 di Kota Semarang, Nanda berharap seluruh pihak ikut menyukseskan pesta demokrasi yang digelar serentak.
"Kami berharap seluruh warga Kota Semarang ikut terlibat dalam mensosialisasikan dan menyukseskan Pilkada 2024 dengan tetap menjadi mercusuar yang dapat menyinari," ujar Nanda.
Sementara itu, Ketua Komunitas Sahabat Mata, Basuki dalam materi yang disampaikan menjelaskan bahwa partisipasi pemilih di Pilwakot Semarang 2020 lebih tinggi ketimbang partisipasi pemilih secara umum.
"Partisipasi pemilih disabilitas di Pilwakot Semarang 2020 lebih tinggi daripada partisipasi pemilih secara total, pengguna hak pilih disabilitas 72,06 persen, sementara itu partisipasi umum 68,62 persen," ujar Basuki.
Karena partisipasi pemilih disabilitas tersebut, Basuki berharap teman-teman difabel yang hadir dapat menyebarluaskan informasi yang didapatkan selama kegiatan sosialisasi kepada pemilih disabilitas yang belum pernah mendapatkan materi sosialisasi serupa.
"Faktanya hanya sedikit teman-teman difabel yang masuk ke organisasi, karena masih banyak teman-teman difabel yang belum masuk dalam organisasi, artinya kita perlu bersama-sama menyebarluaskan informasi kepemiluan ini," terang dia.
Basuki melanjutkan, pihaknya berharap pemerintah Kota Semarang dapat melakukan pendataan pemilih disabilitas secara lebih akurat agar data tersebut dapat digunakan oleh lembaga-lembaga lain dalam memberikan materi sosialisasi secara inklusif.
"Pihak kelurahan juga perlu memberikan data pemilih disabilitas, agar KPU atau kelurahan sendiri bisa memberikan sosilaisasi kepada seluruh pemilih disabilitas agar semua teman-teman difabel bisa menerima informasi kepemiluan," sambung Basuki.
Pada kesempatan berikutnya, Dosen Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Unnes, Dr. Sos. Puji Lestari, S.Pd., M.Si. menyampaikan hasil riset yang menemukan bahwa sikap enggan dari pemilih disabilitas untuk datang ke TPS salah satunya disebabkan karena tidak semua TPS bisa diakses oleh pemilih difabel.
"Berdasarkan hasil penelitian memang teman-teman itu terbatas aksesibikitasnya artinya tidak semua TPS ramah difabel atau tidak membuat teman-teman nyaman, jadi ada rasa malas, karena tidak ada pendamping dan tidak tahu informasi mengenai cara memilih," ujar Puji.
Meski demikian, Puji menyadari bahwa untuk membuat TPS benar-benar akses bagi seluruh pemilih disabilitas membutuhkan anggaran yang lebih tinggi.
Oleh sebab itu Puji berharap penyelenggara pemilu/pilkada agar memanfaatkan teknologi informasi agar materi sosialisasi dapat diterima secara inklusif.
"Kita juga bisa memanfaatkan teknologi, membuat video yang pesannya bisa diterima oleh seluruh teman-teman difabel agar semua bisa menerima informasi kepemiluan dengan utuh, dengan baik," lanjut Puji.
Karena momen pemilu/pilkada memiliki tingkat kerawanan yang beragam, Puji meminta para pemilih disabilitas untuk tidak larut dalam tensi politik yang tinggi.
"Kebiasaan kita di Indonesia itu kalau kita sudah mendukung jadi fanatik, yang beda dianggap musuh, padahal kan tidak, kita tetap berkeluarga, tadi disebutkan kita tetap harus bekerja untuk dapat hidup, maka ini buat litersi kita, tidak masalah beda pilihan, itu wajar tapi jangan sampai fanatik," pesan Puji.
Kegiatan sosialisasi yang berlangsung pada siang hingga sore hari tersebut diwarnai dengan pertanyaan dan diskusi yang bervariatif antara pemateri dan anggota KPU Kota Semarang dengan para peserta kegiatan. (rap/ed. Foto: e1/KPU Kota Semarang)