Berita Terkini

Jejak Digital Itu Abadi,  Maka Bijaklah

Jejak Digital Itu Abadi,  Maka Bijaklah

Berhati-hati menggunakan media sosial dan bagaimana menanggapi penyampaian oleh netizen kepada penyelenggara pemilu menjadi materi diskusi yang menghangatkan "Rabu Ingin Tau"  episode 28, 3 Nopember 2021.
Narasumber Paulus Widiantoro, menyampaikan Etika dan Norma dalam menggunakan internet sebagai sarana komunikasi. 
KPU Kota Semarang hadir secara daring untuk menyimak pemaparan Paulus Widiyantoro (Anggota KPU Provinsi Jawa Tengah). Komisioner KPU Kota Semarang menyimak materi bertema Netiquette Penyelenggara Pemilu. Ndan Paul ( Sapaan akrab Paulus Widiantoro) banyak menyoroti terkait bagaimana mestinya penyelenggara pemilu bijaksana menggunakan media sosial.
“Ketika seseorang sudah dilantik menjadi penyelenggara pemilu, menjadi pejabat negara, maka  sebagai pribadi, sudah pasti banyak disorot oleh netizen (warga Internet),  sehingga harus bisa memposisikan diri, menerapkan norma-norma dan etika bagaimana menggunakan media” tegas Paul.
Bukan berarti sebagai penyelenggara pemilu harus menutup semua media sosial, tapi lebih ke arah hati-hati dan bijak serta harus sadar diri bahwa posisinya adalah penyelenggara pemilu.
Kedepannya, Paulus berharap,  KPU menjadi lembaga yang responsif, ketika ada berita-berita yang kurang sesuai, jangan menunggu sampai viral,  maka harus melakukan klarifikasi secara resmi. Semua penyelenggara pemilu di jajaran KPU, bisa ikut mensosialisasikan melalui akun- akun medsos yang dimiliki.
Ditanya soal bagaimana menghadapi “serangan”  maka KPU harus bertindak hari-hati, dalam proses  klarifikasi, mesti bijaksana dalam menjaga omongan dan menjaga isi medsos.  “Jejak digital itu abadi maka hati hatilah disana” tegas Paul.
KPU dan jajarannya harus selalu belajar dan menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi, penyelenggara wajib memiliki kecakapan digital. KPU harus melakukan literasi digital bersama-sama, utamanya dengan sekretariat mengingat kedepan akan sering menggunakan media sosial.
“Kita tidak bisa menolak penggunaan media digital atau media sosial. Tapi juga harus ingat bahwa yang kita hadapi adalah manusia, kita tidak pernah bertemu dan bertatap muka. Ketika di medsos kita tidak pernah tau, ekspresi seperti apa, sedang sedih, marah atau bercanda. Kita wajib waspada”
Semua penyelenggara, pemilih, peserta dan semua masyarakat,  bisa menerapkan etika bermedia, untuk memudahkan keberhasilan tujuan demokrasi, kita jangan sampai “termakan” oleh media yang tidak bertanggung jawab. " (didin)

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 71 kali