Masuki Hari Pertama Kampanye, KPU Ajak Mahasiswa FEB Undip Kenali Visi & Misi Paslon Pilkada 2024
Semarang, kota-semarang.kpu.go.id - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang, Ahmad Zaini meminta mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) untuk memanfaatkan masa kampanye agar lebih menggali visi dan misi serta mengenali program dari paslon yang berkompetisi di Pilkada 2024, Rabu (25/9).
"Hari ini tanggal 25 September sampai nanti 23 November 2024. Jadi selama 60 hari atau 2 bulan, ini waktu yang tepat bagi teman-teman mahasiswa untuk mempelajari dan lebih mengenal paslon, baik visi dan misinya serta program-programnya," kata Zaini.
Hal tersebut disampaikan oleh Zaini ketika dirinya menjadi narasumber dalam kegiatan KPU Goes to Campus dengan tema Peran Pemilih Pemula dalam Pilkada 2024 yang digelar di Aula Kewirausahaan FEB Undip.
Mengenai kegiatan kampanye Pilkada 2024, Zaini mengingatkan agar menghindari money politic, karena hal tersebut bisa mencederai proses demokrasi yang luber dan jurdil.
"Kalau pemilu yang menerima uang tidak disanksi. tetapi kalau di pilkada, baik yang menerima dan yang memberi itu akan sama-sama dikenakan pasal pidana. Jadi harus menghindari money politic karena selain ada hukumannya, kegiatan ini bisa mencederai proses demokrasi kita," papar Zaini.
Zaini menjelaskan, tiap-tiap suara merupakan hak konstitusi yang berharga. Oleh sebab itu Zaini berharap mahasiswa bisa menolak apabila ada pihak-pihak yang hendak membeli hak pilih tersebut.
"Kalau kalian dikasih uang coba dihitung apakah sebanding, karena hak pilih itu sangat berharga. Misalkan satu amplop dibagi 5 tahun, dibagi bulan dibagi hari. Kalau hingga pembagian perhari, suara kalian itu hanya dihargai 100 rupiah. Jadi jangan terima dan hindari money politic," sambung Zaini.
Sementara itu, Dosen FEB Undip, Darwanto yang memberikan materi mengenai peran mahasiwa dalam pilkada menyampaikan bahwa mahasiswa tidak boleh abai dengan proses politik. Menurutnya, sikap abai memiliki dampak negatif yang bisa berdampak pada banyak aspek.
"Meskipun kalian mahasiswa ekonomi, kita tidak boleh abai dan bahkan buta politik. Apa yang terjadi kalau kalian sampai abai? kalian akan kehilangan hak hak politik kalian. Kedua akan muncul ketimpangan, karena eksistensi anak-anak muda yang berintegritas dan kritis itu tidak terlihat," kata Darwanto.
Darmanto melanjutkan, Apabila mahasiswa yang berintegritas dan kritis tidak terlibat dalam proses politik akan semakin banyak pihak yang tidak berintegritas yang menduduki jabatan-jabatan yang mempengaruhi kebijakan publik.
"Lembaga eksekutif dan legislatif ini kan orang-orang hasil proses demokrasi, kalau orang-orang baik yang kritis tidak terlibat, yang masuk lembaga itu politisi yang hanya mementingkan kalangan tertentu. Padahal kebijakan publik itu dibuat untuk mensejahterakan semua elemen masyarakat," lanjutnya.
Senada dengan Darmanto, Zaini juga meminta mahasiswa untuk terlibat dalam proses pilkada agar bisa mengawal prosesnya yang luber dan jurdil.
Oleh karena itu, Zaini berharap para mahasiswa yang hadir agar turut membantu KPU dalam memberikan pengertian bahwa setiap suara penting untuk menentukan masa depan dan pembangunan.
"Jadi keterlibatan teman-teman ini penting, baik ikut nyoblos, bergabung sebagai penyelenggara atau ikut menyosialisasikan tahapan pilkada ini ke teman komunitas, atau temen tongkrongan kalian. Kami harap informasi ini bisa disampaikan, karena teman-teman juga punya tanggung jawab untuk menyukseskan pilkada," tutur Zaini. (rap/ed. Foto: div/KPU Kota Semarang)