Berita Terkini

Tidak Ada Buta yang Paling Buruk Selain Buta Politik

Tidak Ada Buta yang Paling Buruk Selain Buta Politik

Buta terburuk adalah buta politik, kalimat tersebut disampaikan oleh Muhadam Labolo, narasumber pada workshop pembekalan peserta Program Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan (DP3), Jumat 19 November 2021. Muhadam Labolo menyampaikan materi Demokrasi, Pemilu dan Partisipasi.
Labolo menjadi Narasumber pada hari kedua pembekalan bagi peserta program DP3.
KPU Kota Semarang mengikuti acara yang berlangsung secara daring di zoom meeting.
Muhadam Labolo mengutip Berthold Brecht (1898 – 1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, sutradara teater. Dia menjelaskan pernyataan Berthold Brecht. Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik dengan bangga  membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Ia tidak tahu bahwa dari buta politiknya lahir anak terlantar, pencuri,  politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri.
Peserta diajak untuk belajar demokrasi. Sistem demokrasi yang baik,  bisa membuat ekonomi juga baik. Demokrasi yang substansial yaitu bagaimana memilih pemimpin yang mampu membuat ekonomi rakyatnya baik. Menurut Labolo, Demokrasi dan ekonomi berbanding lurus. Jika demokrasi baik, ekonomi juga baik, pun sebaliknya. 
Selama lebih dari satu jam Labolo menjelaskan  kepada peserta bagaimana pemilu dan pemilihan pada  masyarakat di pedesaan, serta upaya mengajak masyarakat desa untuk berpartisipasi mengingat masyarakat desa juga harus melek politik. 
Ditanya soal penerapan demokrasi langsung, Labolo mengemukakan bahwa untuk menerapkan demokrasi langsung pada masyarakat,  perlu menimbang dua hal yaitu tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan.  Labolo menjelaskan pada masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah, popularitas menjadi tolak ukur. Sementara tingkat pendapatan berpengaruh terhadap pengaruh siapa yang duitnya banyak dialah yang dipilih. 
Soal lain adalah menghadapi masyarakat desa yang apatis terhadap sistem demokrasi, mekanisme dari KPU untuk memberikan pencerahan melalui kader-kader desa. Labolo membandingkan antara apatisme di Indonesia dan Amerika. Labolo menilai bahwa apatisme di Indonesia karena ketidakpercayaan pada sistem politik. Menurutnya, di Amerika, orang merasa percaya pada sistem politik, siapapun calonnya sistem membuat calon yang baik. 
Muhadam Labolo memberi saran kepada peserta untuk berusaha membangun kesadaran dari basis konstituen, supaya menggeser cakrawala berfikir pragmatis menjadi idealis. 
“Partisipasi politik masyarakat tidak sekedar datang ke TPS, tapi aktif mencari tau latar belakang seseorang, apakah dia kader yang baik atau tidak. Bukan cuma sekedar mengajak mereka datang tapi lebih baik lagi, siapa, darimana, apa visi dan gagasan calon yang dipilih. Saya rasa itu yang harus banyak disampaikan kepada masyarakat di desa” jelasnya.
Saat peserta terjun kepada masyarakat di desa lokus DP3, Muhadam Labolo memberikan arahan tentang lembaga sosial di tingkat desa, yang paling berpengaruh dalam dinamika partisipasi politik di  desa. Yakni pertama adalah pemerintah desa, mengambil aparat pemerintah desa untuk memiliki akses politik dan pemberdayaan pembangunan masyarakat. Merekrut teman-teman di pemerintah desa. Lembaga kedua adalah tokoh masyarakat yaitu tokoh agama, penting untuk mendekonstruksi pemikiran dan pemahaman terhadap demokrasi. Untuk mempengaruhi cakrawala berfikir masyarakat. Calon atau figure yang cerdas dan bersih perlu dilibatkan dalam mengubah masyarakat. Pelaksana atau pemain dalam hal pemilu mereka adalah penyelenggara. 
Muhadam Labolo menutup sesi pertama pembekalan hari kedua dengan beberapa nasehat. “Kalau bisa transfer knowledge tidak hanya ditekankan pada aspek kognisi tapi bisa memberikan aspek psikomotorik,  keterampilan berpolitik yang bagus. Kalau bisa ajak mereka melakukan dan afeksi. Metode yang dipakai sedapat mungkin banyak data dan kasus yang sampaikan , ajak untuk terlibat, berfikir, mengemukakan kasus dan memecahkan kasus. Supaya ada perubahan tidak hanya pada kognisi tapi juga pada keterampilan politik yang baik dan mendorong perubahan afeksi” (Didin)

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 656 kali