Semarang, kota-semarang.kpu.go.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia (RI) menerima penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas pemrakarsa dan penyelenggara kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Serentak Film Kejarlah Janji, Sabtu (28/10). Tidak hanya menerima satu penghargaan, pada kegiatan nobar yang digelar di auditorium lantai 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Diponegoro (Undip), KPU RI mencatatkan dua rekor sekaligus. Kedua rekor tersebut yakni Pemrakarsa dan Penyelenggara Nonton Film Bareng Serentak oleh Santri Terbanyak dan Pemrakarsa dan Penyelenggara Nonton Film Bareng Serentak oleh Mahasiswa Terbanyak. Menurut perwakilan Muri, Sri Widayati dijelaskan bahwa dua rekor tersebut didapatkan setelah satker-satker KPU berhasil melaksanakan kegiatan nobar serentak dengan peserta sebanyak 336.532. "Penghargaan ini dicatatkan oleh KPU karena pada 22 Oktober 2023, saat peringatan Hari Santri, KPU melaksanakan nobar di 38 provinsi, 460 pondok pesantren dan diikuti oleh 119.767 santri. Kemudian rekor kedua didapatkan pada 28 Oktober 2023 pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, KPU melakukan nobar di 36 provinsi, 435 perguruan tinggi, dan diikuti oleh 216.765 mahasiswa," ujar Sri. Pada sambutannya, Ketua KPU RI, Hasyim Asy'ari yang hadir bersama Anggota KPU RI, Yulianto Sudrajat mengatakan bahwa kegiatan nobar merupakan salah satu cara agar pemilih muda lebih mudah menerima informasi kepemiluan melalui sketsa-sketsa sosial yang mencerminkan kegiatan berpolitik dan berdemokrasi di Indonesia. "Sebelum menentukan, kami sempat ngobrol, kira-kira bagaimana bahasa KPU bisa teman-teman terima, bisa berinteraksi dengan KPU, dan sama-sama bisa mengetahui situasi kompetisi di era demokrasi ini seperti apa," kata Hasyim. Hasyim melanjutkan, melalui film Kejarlah Janji, KPU berharap para pemilih muda bisa mendapatkan value yang bermakna terhadap proses demokrasi. "Maka kami membuat film ini agar bisa jadi tontonan dan tuntunan bagi kita semua, khususnya bagi teman-teman mahasiswa ini," ujar Hasyim. Mengenai pemilihan pondok pesantren dan perguruan tinggi, Hasyim menjelaskan bahwa lembaga pendidikan tersebut merupakan dua tempat di mana pemuda dididik menjadi pribadi yang peka terhadap persoalan sosial "Pesantran menjadi salah satu temoat yang dipilih karena di pondok teman-teman dini dididik untuk menjadi dimana panutan, ulana, dan romo, dan perguruan tinggi digunakan untuk mengajarkan sifat-sifat kritis peka, dan cerdas," tambah dia. Senada dengan Hasyim, Wakil Dekan I, Fisip Undip Semarang, Teguh Yuwono mengatakan bahwa kampus merupakan sumber yang mencerahkan dan mampu memberikan gagasan-gagasan modern dan rasional. Oleh sebab itu, Teguh berharap, antara KPU dan perguruan tinggi dapat terus menjalin kerjasama untuk bisa menghasilkan pemikiran masyarakat yang cerdas, rasional, terutama dalam bidang demokrasi dan kepemiluan. "Semoga kerjasama KPU, daru jajaran pusat hingga daerah bisa berjalan dengan baik, dan bersinergi, karena kampus sumber cahaya untuk memberikan gaasan modern dan rasional agar pemilih Indonesia semakin cerdas, baik, dan rasional," kata Teguh. Menurutnya, dengan sinergi antara KPU dan perguruan tinggi, praktik demokrasi di Indonesia dapat mengalami perbaikan kualitas. "Karena tentu kita ingin tingkat demokrasi di negara kita ini semakin berkembang dari waktu ke waktu, semoga dengan cara ini kita bisa saling berkontribusi," tambahnya. Hadir dalam pelaksanaan nobar di Kampus Undip Semarang tersebut, ketua, anggota dan sekretaris KPU Provinsi Jawa Tengah, ketua, anggota dan sekretaris KPU Kota Semarang, anggota PPK dan PPS setempat, dan ratusan mahasiwa dan mahasiswi Undip Semarang. (rap/ed. Foto: rap/KPU Kota Semarang)