Semarang, kota-semarang.kpu.go.id - Pada Workshop Penyusunan Buku Sosialisasi dan Pendidikan Politik yang digelar di Kabupaten Semarang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah menggandeng sastrawan Abidah El Khalieqy, penulis novel terkenal 'Perempuan Berkalung Sorban', untuk menggarap novel bertema demokrasi dengan latar belakang Pilkada 2024 di pesisir Pantura, Kamis (6/2). Dalam paparannya, Anggota KPU Provinsi Jawa Tengah, Akmaliyah mengatakan, KPU Provinsi Jawa Tengah menggandeng sastrawan agar dokumentasi pelaksanaan pemilu/pilkada tidak hanya sebatas buku laporan. "Buku Divisi Sosdiklih nanti akan berbeda, tidak dalam bentuk buku laporan biasa, tetapi dalam bentuk novel. Kita telah bekerjasama dengan sastrawan Abidah El Khalieqy untuk menulis sebuah novel yang berangkat dari kisah nyata Pilkada 2024," kata Akmaliyah. Karya tersebut diharapkan menginspirasi generasi muda dan masyarakat tentang pentingnya proses demokrasi yang baik. "Buku ini tidak hanya mendokumentasikan Pilkada 2024, tetapi juga membawa pesan budaya, sosial, dan demokrasi yang relevan," ujar Akmaliyah. Akmaliyah mengatakan, ia mengajak Abidah El Khalieqy karena penulis tersebut aktif menghasilkan karya sastra. Sejak 2000 hingga saat ini ia telah menghasilkan 21 novel. Lima diantaranya sudah diangkat ke layar perak nasional, salah satunya adalah Perempuan Berkalung Sorban. Karena berangkat dari kisah nyata, maka dalam workshop tersebut, Abidah El Khalieqy juga berbelanja pengalaman seputar pelaksanaan pilkada di Jawa Tengah, khususnya yang berada di jalur pantura, karena novel tersebut nantinya akan bersetting di wilayah pantai utara Jawa Tengah. "Semua novel saya membutuhkan riset. Riset sangat diperlukan, karena pada hakikatnya novel juga dari riset atau fakta empiris yang dirasakan sehari-hari," kata Abidah. Abidah mengatakan, dirinya setuju untuk menggarap novel bertema pilkada karena ia merasa tema tersebut jarang diangkat oleh sastrawan, padahal banyak kisah di belakang layar yang menarik dan perlu diketahui oleh publik. "Tidak hanya cerita, tetapi bisa menjadi pesan bagi masyarakat, khususnya anak muda. Masyarakat ketika pemilu sangat rentan mendapat perilaku yang tidak manusiawi, terdampak politik uang, generasi milenial juga begitu apatis dan skeptis. Tujuan KPU ini sangat baik karena cerita ini tidak banyak dihadirkan. Harapannya setiap pemilu menjadi pesta demokrasi yang sebenarnya. Menjalankan demokrasi sesuai arahnya," terang dia. Pada kegiatan yang dihadiri oleh Anggota KPU Divisi Sosdiklih se-Jawa Tengah tersebut, Abidah mengatakan bahwa cerita dari satker KPU nantinya akan diolah dan disusun sebagai kerangka cerita dalam novel yang akan digarap. "Sharing dari KPU kabupaten/kota sangat penting untuk kemudian diolah menggunakan bahasa novel. Apa yang disampaikan merupakan bagian dari riset yang akan ditulis dan menjadi inspirasi karya sastra," sambungnya. Abidah melanjutkan, karena bersetting pantura, ia akan membuat judul yang dekat dengan masyarakat di wilayah tersebut. "Judul mungkin bisa Ombak dari Utara. Ombak diibaratkan dekat dengan nelayan, ada pasang dan surutnya. Perumpamaannya menggunakan ombak karena masyarakat rentan terpapar money politic, isu hoaks dan sara. Novel ini akan menggunakan tokoh akademisi, SMA atau dosen, politisi, juga ulama/kyai/pemuka agama," paparnya. Pada pembukaan acara, Ketua KPU Provinsi Jawa Tengah, Handi Tri Ujiono juga berharap buku tersebut dapat menjelaskan upaya dan sosialisasi yang dilakukan oleh KPU dan juga sebagai bentuk apresiasi kepada penyelenggara pemilu selama Pilkada 2024. (nmu/ed. Foto: nmu/KPU Kota Semarang)