Semarang, kota-semarang.kpu.go.id- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang menghadiri kegiatan Pendidikan Pemilih dengan tajuk Sosialisasi Menjadi Pemilih Pemula Bagi Pelajar Islam di Wilayah Kota Semarang, Sabtu (15/7). Kegiatan yang diinisiasi oleh Koordiator HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat Bahasa Sultan Agung Cabang Semarang itu dilaksanakan di Balaikota Semarang. Hadir sebagai narasumber kegiatan, Ketua KPU Kota Semarang, Henry Cassandra Gultom (Nanda), dan Sekretaris Kesbangpol Kota Semarang, Joko Hartono. Pada sesi pertama, Joko menyebutkan bahwa pemilu merupakan ilmu atau seni untuk meraih kekuasaan secara legal. Dalam arti luas pemilu dapat memiliki makna keterlibatan warga negara terhadap proses pengambilan keputusan dalam bidang politik dan pemerintahan "Dalam arti sempit dapat diartikan sebagai ilmu dan seni untuk meraih kekuasaan secara konstitusional sesuai dengan aturan. Dalam arti luas luas bisa kita maknai bagaimana kita memahami tentang kita hidup bernegara, apa tujuan kita hidup bernegara, bagaimana hubungan antar negara dengan warga negaranya." terang Joko. Mengenai perilaku memilih, Joko mengatakan bahwa perlunya rasionalitas agar dapat menentukan pilihan secara lebih bijak. "Perilaku pemilih adalah pertimbangan seseorang ketika menjatuhkan pilihannya pada pemilu nanti. Rasional artinya menggunakan akal sehatnya, melihat secara objektif, sebelum menentukan pilihan," terang Joko. Pada sesi selanjutnya Nanda menjelaskan, pada Pemilu 2024 akan ada banyak parpol yang menggunakan media sosial untuk mengkampanyekan visi, misi dan program pembangunan yang diusung. Sementara itu, aktivitas antar pengguna di media sosial rawan terhadap penyebaran ujaran kebencian dan praktik kampanye hitam. "Akan semakin banyak parpol dan calon menggunakan media sosial untuk kampanye, media sosial rawan praktik kampanye hitam, ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong," kata Nanda. Untuk mengurangi dampak buruk tersbeut, Nanda mengatakan bahwa kaum muda, baik kelompok generasi Z dan milenial yang memiliki literasi teknologi lebih tinggi diharapkan tidak terlibat dalam praktik-praktik politik yang tidak baik tersebut. "Nah karena generasi muda memiliki kecakapan teknologi, maka generasi Z dan milenial diharapkan bisa meluruskan efek berita bohong dan tidak terlibat dalam praktik tidak terpuji tersebut," Pesan Nanda. (awh/ed. Foto: awh/KPU Kota Semarang)